Benarkah Santet itu Ilmu Hitam?

Pengertian Santet

“Santet” (santhet-Jawa) merupakan kepanjangan dari “mesisan benthet” atau “mesisan kanthet”. Yang dimaksud dengan mesisan benthet adalah “sekalian retak” akibat benturan keras, sedangkan mesisan kanthet adalah sekalian lengket. Digunakannya istilah “santet” yang berkonotasi provokatif itu untuk memberikan motivasi bagi para pengikut aliran santet agar dalam menjalankan aktivitas yang terkait dengan urusan santet itu tidak setengah-setengah. Sesuai dengan istilah mesisan yang berarti “sekalian” atau “terlanjur”, andaikan dengan santet itu tidak mampu membuat calon korban sakit atau tewas, digunakanlah cara lain, misalnya menggunakan racun.

Begitu juga dengan santet untuk tujuan memikat (pelet/ guna-guna), makna mesisan kanthet juga memberikan motivasi jika misalnya menggunakan pelet atau guna-guna itu tidak membuahkan hasil, dalam arti orang yang dituju tidak kasmaran atau tergila-gila, orang tersebut bisa dibawa lari atau diculik. Tradisi yang berlaku di kalangan penggemar atau pengikut aliran santet ini adalah “kalah cacak, menang cacak”. Artinya, kalah dicoba, menang pun harus dicoba. Soal nanti berhasil atau gagal, itu urusan belakangan. Kalah sebelum bertanding tidak ada dalam kamus mereka.

Kontotasi santet selama ini sebagai ilmu hitam sesungguhnya kurang tepat karena mereka membagi ilmu santet itu dalam empat warna yang disebut magie, yakni kuning, merah, hitam, dan putih.

Magie kuning adalah pelet dengan karakter lembut atas dasar kasih-sayang untuk tujuan dinikahi. Magie merah adalah pelet dengan karakter keras untuk memikat, tetapi ada unsur dendam dan mempermalukan korban. Magie hitam untuk mengirim penyakit, kesialan, atau membunuh. Sementara itu, magie putih untuk penyembuhan.

Istilah santet yang berasal dari bahasa Jawa Timuran ini kemudian lebih terkenal dibandingkan dengan istilah serupa untuk aktivitas yang sama. Seperti teluh, ganggoang, dan sogna di Jawa Barat dan Banten. Orang-orang Jawa Tengah menyebut tenung; di Bali disebut dengan desti, teluh, atau tenang jana; di Sumatera Barat biring atau tinggam; Sumatera Utara begu ganjang; Papua suangi: serta di Minahasa disebut dengan pandot. Dan, masih banyak istilah lainnya.

Kisah Calon Arang
Salah satu fenomena metafisis yang kemudian diidentikkan sebagai santet yang terkenal karena “terpublikasikan” dalam sejarah kerajaan adalah kisah Calon Arang. Calon Arang adalah seorang janda sakti yang pernah menggegerkan Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Raja Erlangga. Dia tinggal di Desa Girah bersama anak gadisnya yang bernama Ratna Manggali. Penduduk takut terhadap kesaktian Calon Arang, sehingga tidak ada lelaki yang berani melamar putrinya. Oleh karena itu, Calong Arang marah, lalu menebar musibah di tanah Kediri.

Melalui ritualnya di sebuah kuburan, turunlah Dewi Bhagawati atau Dewi Durga yang mengabulkan permohonan Calon Arang. Maka, pageblug pun menyebar dan menyebabkan banyak orang yang pada pagi hari sakit, sorenya tewas, atau pada sore hari sakit, pagi harinya meninggal.

Melihat banyak korban berjatuhan, Raja Erlangga berupaya mencari solusi untuk mengatasi wabah tersebut, sekaligus mencari tahu penyebabnya. Setelah mengetahui bahwa pageblug itu karena ulah Calon Arang, dikirimkanlah pasukan ke Desa Girah untuk membunuh Calon Arang. Namun, si janda bengis itu terlalu sakti untuk dikalahkan. Penyerangan yang dilakukan oleh tentara kerajaan ternyata tidak mampu menyurutkan Calon Arang menghentikan santetnya. Sebaliknya, dia semakin marah dan semakin kuat menyebarkan santetnya sehingga korban pun semakin bertambah.

Raja Erlangga berupaya mengatasi penyakit misterius itu. Para pendeta dan resi selalu berdoa di istana hingga akhirnya turunlah petunjuk bahwa yang dapat mengakhiri pageblug itu hanya Mpu Bharadah dari Desa Lemah Tulis. Erlangga kemudian mengirim utusan untuk menghadap Mpu Bharadah. Untuk meredam kemarahan Calon Arang, Mpu Bharadah mengutus muridnya yang bernama Bahula untuk menikahi Ratna Manggali.

Tugas sang menantu selain meredam kemarahan mertuanya juga menjadi matamata bagi kepentingan kerajaan. 

Setelah menikah dan tinggal di kediaman mertuanya, Bahula tahu bahwa kesaktian mertuanya itu karena sebuah kitab yang setiap malam dibaca saat Calon Arang melakukan upacara di kuburan. Bahula segera menemui gurunya sambil membawa kitab itu dan menceriterakan kebiasaan mertuanya

Dan setelah menyerahkan bukti dan data inteljen, Mpu Bharadah meminta Bahula segera kembali ke Desa Girah sebelum Calon Arang Mengetahui bahwa dia bersedia menjadi menantu karena sebuah misi mencari kelemahannya. Mpu Bharadah kemudian menyusul ke Desa Girah. Dalam perjalanan, Mpu Bharadah menyembuhkan banyak orang yang sakit dan menghidupkan kembali yang mayat yang jasatnya masih utuh

Di kuburan Desa Girah bertemulah Mpu Bharadah dengan Calon Arang. Mpu Bharadah memperingatkan agar Calon Arang menghentikan santetnya. Calon Arang bersedia menuruti nasihat itu asalkan dia diruwat untuk melebur dosadosanya. Mpu Bharadah menolak meruwatnya karena dosa Calon Arang dianggap sudah terlalu besar

Akhirnya terjadi pertempuran antara Calon Arang dan Mpu Bharadah. Calon Arang berusaha membunuh Mpu Bharadah dengan menyemburkan api yang memancar dari matanya. Namun, ternyata Mpu Bharadah lebih sakti. Dalam perang tanding itu Calon Arang mati dalam posisi berdiri

Selanjutnya Mpu Bharadah menghidupkan kembali Calon Arang untuk diberi ajaran tentang kebenaran hidup agar kelak bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta bersedia mengajarkan jalan ke surga. Setelah selesai mempelajari ajaranajaran kebajikan, Calon Arang dimatikan lagi, kemudian mayatnya dibakar

Kisah Calon Arang versus Mpu Bharadah ini menjadikan stigma bahwa pelaku santet selalu berhadapan dengan rohaniawan. Artinya, aliran putih(kebenaran) berhadapan dengan aliran hitam(kebatilan)

Santet dalam Catatan Sejarah & Tradisi 

Fenomena santet bukan hanya tradisi dalam masyarakat pada masa Kerajaan Kediri. Metode mengirim energi jarak jauh untuk tujuan tertentu (bela diri atau menyakiti orang lain) ini dimiliki hampir semua bangsa dari berbagai belahan dunia, tanpa melihat asalmuasal suku dan kepercayaan atau agama yang dianutnya

Almarhum Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung menjelaskan bahwa ilmu teluh atau santet adalah warisan masa lampau yang terus bertahan dalam kehidupan masyarakat Sunda hingga sekarang. Edi merujuk sebuah dokumen abad ke6, yang tertulis di daun lontar yang dinamai Sanghyang Siksa Kandang Karesian semacam ensiklopedi adat-istiadat orang Sundayang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional. Dokumen itu menyebutkan bahwa teluh adalah perasaan sakit hati, murung, dan tidak senangyang dialihkan kepada orang lain

Praktik sejenis santet ini pada tahun 14501750 sudah ada di Eropa Barat. Pada saat itu terjadi tindakan anarkisme di seluruh Eropa dengan cara membakar hiduphidup orang yang diduga sebagai dukun santet. Di Amerika Serikat, pada tahun 1692, di kawasan Salem, Massachusetts, juga pernah tercatat sejarah hitam adanya pembunuhan ratusan orang yang dicurigai sebagai dukun santet

Sementara itu, munculnya komunitas santet di Jawa Timur, terkait erat dengan pergolakan politik menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit, yakni adanya penyerangan dari Demak.

Penyerangan Demak pada saat itu sebenarnya bukan kemauan pribadi Raden Patah. Terlebih Sultan Demak itu sudah diperingatkan Putri Campa, ibu kandungnya, mengingat Raja Brawijaya Vadalah ayah tiri Raden Patah.Namun, karena Raden Patah tidak mampu mengendalikan ambisi para panglima perangnya, terjadilah penyerbuan itu. Akibat penyerbuan itu, pasukan Majapahit dan sebagian penduduk menyingkir ke barat di sekitar Gunung Lawu dan sebagian menyingkir ke timur (Gunung Bromo, Semeru, dan Tengger), serta menyeberang ke Pulau Bali. Raja Brawijaya V sendiri menyingkir ke Gunung Lawu dan menghabiskan waktu dengan bertapa hingga mencapai mokswa. Brawijaya V kemudian dikenal sebagai Sunan Lawu

Setelah kematian Raja Brawijaya V, salah satu penasihat spiritualnya bernama Sabdo Palon Noyo Genggong berjanji menuntut balas atas penyerangan Demak. Sabdo Palon Noyo Genggong ini oleh kalangan tertentu diyakini akan kembali memimpin Majapahit (Majapahit jilid II)

Bentuk pelampiasan dendam orangorang Majapahit atas serangan Demak yang menyebabkan mereka terusir dari tanah kelahiran dan keyakinannya dilakukan dengan cara supranatural. Mereka yang semula menyimpan ilmu santet sebagai pegangan pribadi yang semula penyebarannya terbatas pada lingkup tertentu, saat itu mulai dilepaskan kepada masyarakat umum. Kebijakan ini untuk sebuah misi balas dendam terhadap orang orang dari kerajaan Demak

Kebijakan menyebarkan ilmu santet ini bersifat personal pada level bawah yang dilakukan orang yang berada di luar sistem kerajaan. Salah satu tokoh penyebar santet yang terkenal adalah Mbah Bungkuk dan para murid yang pernah belajar padanya. Mbah Bungkuk dikenal sebagai tabib, yang karena kesaktiannya menyebabkan dia disegani kalangan istana

 

Pada tahun  1692, di kawasan Salem, Massachusetts, Amerika Serikat juga pernah  mencatat sejarah hitam  adanya pembunuhan ratusan orang yang dicurigai sebagai dukun  santet

 

santet

Benarkah Santet Itu Ilmu Hitam

Bagaimana pendapat pengikut aliran santet menyikapi tudingan bahwa santet adalah ilmu hitam

Menurut mereka, sebutan santet sebagai ilmu hitam hanya persepsi dari orang luar“. Ketidaktahuan orang luar terhadap tradisiorangorangpada zaman Kerajaan Kediri itu menyebabkan mereka mengambil sikap gebyah uyah atau pukul rata. Karena kebanyakan orang yang berbicara santet adalah mereka yang tidak terlibat langsung dengan dunia persantetan, atau mereka yang mengenal santet dari sumber yang tidak jelas

Santet menurut mereka adalah tradisi turuntemurun yang hingga kini masih dilestarikan sebagian orang sebagai sebuah ngelmu sekaligus ageman (pegangan) untuk mempermudah berbagai problem hidup. Karenanya tidak mengherankan jika hingga saat ini, santet masih dipelajari secara sembunyi sembunyi oleh sebagian pengikutnya, walaupun dijelaskan bahwa tidak setiap pengikut santet mampu menguasai ilmu santet secara utuh karena semua ditentukan dari kesungguhan dalam laku batin dan faktor wadah atau bakat. 

Pengikut aliran santet meyakini bahwa santet adalah ilmu yang bebas nilai dan tidak berada pada wilayah hitam atau  putih

Sisasisa ilmu santet hingga kini masih dipelajarioleh sebagian orang (khususnya di Jawa). Pengikut aliran santet meyakini bahwa santet adalah ilmu yang bebas nilai dan tidak berada pada wilayah hitam atau putih. Jika kemudian santet itu digunakan untuk tindakan di luar kebenaran, berarti menjadi tanggung jawab pribadi pelakunya

Lantas bagaimana dengan tudingan kalangan pengikut ajaran agama samawi bahwa santet melibatkan makhluk gaib yang digambarkan sebagai jin, setan, atau iblis? Mereka mengatakan sebagian dari santet ada yang berproses secara alam dan murni kekuatan pikiran (mind power) dan itu dapat dilihat dari bagian mantranya, Saka kuasa ingsunyang artinya dari kekuatanku. Kekuatan kehendak pribadi ini biasa disebut dengan istilah Aku Batin

Dikenal juga santet dari tataran yang lebih tinggi hingga melibatkan unsur gaib (nonpribadi). Namun pengikut santet menyatakan bahwa makhluk gaibyang dimintai bantuan itu hukan jin, setan, atau iblis. Mereka menyebut dengan istilah “Gaibsaja. Dan yang namanya gaib itu bisa berarti Tuhan, malaikat, dewa, danyang, dan makhluk gaib lainnya. Yang pasti, secara spesifik mereka tidak menyebut gaib itu dengan istilah jin atau setan

Karena meyakini santet sebagai energi yang bebas nilai, santet dianalogikan sebagai gelas kosong yang dapat diisi atau diwarnai apa saja, tergantung pada keinginan pemiliknya

Dalam kehidupan bermasyarakat, para pengikut aliran santet mengibaratkan kelompok mereka seperti Ronin di Jepang yang ketika pemimpinnya terbunuh, mereka lalu mengembara dan hidup menyatu di tengah masyarakat umum. Di Jepang, Ronin hidup miskin dan tinggal di rumahrumah sewa. Tukang santet berbaur di tengah masayarakat dan identitas mereka sering tidak terdeteksi

Ada beberapa hal yang khas dari para pengikut aliran santet. Mereka memiliki tradisi silsilah atau sanad keilmuan sebagaimana yang berlaku di lingkungan tarekat dalam Islam. Mereka mengetahui dari siapa guru mereka belajar santet dan nama guruguru dari generasi sebelumnya. Senioritas dalam komunitas santet juga dihormati dan secara keilmuan, mereka tetap berpegang pada pakem leluhurnya

Pada umumnya, para pengikut aliran santet memiliki bawaan over confidance atau rasa percaya diri yang sangat kuat. Mereka memposisikan santet sebagai ilmu pastiyang diyakini dapat digunakan kapan pun karena santet adalah fenomena alam yang tidak terikat dengan salah dan benarsebagaimana racun yang tidak perlu ditanyakan posisi salah atau benar pada calon korbannya

Sumber :

Buku ‘THE SECRET OF SANTET” oleh  A Masuri – Halaman 1 – 9

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *