Ningsih Tinampi Menangis, Benarkah Dunia Ini Sudah Kembali Ke Zaman Jahiliyah?

Dalam sebuah video yang diunggah pada akun Youtubenya, Ningsih Tinampi tampak sedang berada di Jakarta dalam rangka kunjungan ke rumah pasiennya. Tapi pada bagian akhir videonya itu, Ningsih tak bisa lagi membendung airmatanya yang mengalir deras. Ningsih Tinampi menangis..

Sesungguhnya apa yang membuat Ningsih begitu terbebani hingga akhirnya menangis tersedu-sedu?

“Saya datang ke Jakarta ini, bukan untuk mengobati orang. Saya juga tidak mau. Saya datang kesini  ingin menenangkan hati.. Sepanjang perjalanan saya menangis terus..”

“Saya setiap hari menangis….”ujar Ningsih sambil menahan isak tangisnya

“Karena apa.. Saya ditunjukkan oleh Rasulullah..Lihat kampung ini penuh dengan maksiat.. Kamu harus bisa melawannya..”lanjut Ningsih sambil mengusap airmatanya yang berderai..

“Sedangkan saya nggak mampu berbuat sendiri.. Dan saya tidak ada yang mendukung..”

“Saya banyak melihat maksiat dan maksiat. Saya ditunjukkan di depan mata saya.. Kampung ini banyak maksiat..”

“Ibu Bumi juga sudah mengingatkan kepada saya, hati-hati bila aku murka.. Akan aku muntahkan semuanya.. Akan aku terjang semuanya.. !”

“Kemarin, ibu bumi sudah bilang kepada saya. Bener-bener kamu harus bilang sama Allah. Agar kami semua tidak murka.. Cuma kamu yang bisa..”

“Saya bingung.. Saya berjuang sendirian, tidak ada yang lain..”

“Alhamdulillah.. Pihak Kepolisian dan TNI di daerah saya selalu mendukung saya..”

“Yang berobat ke rumah saya, bukan hanya rakyat jelata.. Ulama juga banyak.. Pondok pesantren juga banyak.. Panti asuhan.. Meraka tak banyak mengetahui, bahwa di pesantrenpun pengasuhnya ada yang stress. Anaknya disantet, sebab ada yang tidak  suka jika dia meneruskan perjuangan kedua orangtuanya yang membangun pesantren tersebut..”

“Apa saya harus diam ??..”

“Mereka tidak tau perjuangan saya.. Mereka taunya hanya menghina saya.. Mereka maunya saya jatuh. Itu saja. !’

“Dan mereka tidak tau, jika saya setiap hari diserang dukun santet ribuan untuk membunuh saya…”

“Mereka menyerang saya agar saya mati.. Kalau tidak sasarannya adalah anak-anak saya..”

Begitulah curahan hati Ningsih Tinampi sebagai ungkapan pikiran dan perasaan yang membaninya. Ningsih Tinampi menangis karena merasa tak tahan melihat kenyataan yang ada sekarang ini.

Di dalam hati  Ningsih Tinampi secara tulus hanya berniat untuk menolong sesama, tapi mengapa banyak orang yang menghina, merendahkan, menjatuhkan dan bahkan ada yang ingin membunuhnya?

Ningsih Tinampi Menangis
Pada zaman jahiliah, orang menyembah patung atau berhala. Zaman sekarang juga sama, manusia menyembah berhala, hanya berbeda bentuknya..

DUNIA KEMBALI KE ZAMAN JAHILIYAH? 

Apa yang disampaikan oleh Ningsih Tinampi tersebut seolah dia ingin mengatakan bahwa umat manusia sekarang ini sudah terlalu banyak yang berbuat jahat dan maksiat, menyimpang dari jalan Allah. Para pejabat juga banyak yang menyengsarakan dan merampok hak rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan melakukan korupsi.

Jika zaman jahiliyah yang dulu pernah terjadi di masa perjuangan Rasululah, banyak orang menyembah berhala yaitu berupa patung yang dibuat sendiri dan disembah-sembah sendiri, maka di zaman sekarang ini juga sama-sama menyembah berhala tapi bentuknya saja yang berbeda.

Berhala masa kini adalah berupa ego dan kesombongan (tinggi hati). Orang merasa dirinya yang paling benar dan menganggap orang lain yang salah

Banyak orang yang mengaku ulama tapi ilmu yang dimilikinya tidak bermanfaat. Suka menebar kebencian, memfitnah,  menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan orang lain bahkan kepada sesama muslim.

Pada zaman jahiliyah masa kini, banyak orang yang menuhankan dirinya sendiri..

INGAT PESAN GUSMUS

Terkait hal ini,  mengingatkan pada nasihat KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sbb :

Gusti Allah, Islam, Umat Islam, Ulama hanya jadi klaim-klaim dan dijadikan alat untuk kepentingan duniawi yang remeh-temeh. Menjual ayat yang samanan qoliilan dengan harga yang sangat sedikit.

Mudah-mudahan tidak seperti yang dikatakan pepatah ‘Sejarah mengulangi dirinya sendiri, jangan sampai jahiliyah mengulangi dirinya sendiri’, orang-orang yang di panggung adalah berhala dan pengikutnya banyak atau folowers-nya banyak.

Karena di atas orang alim masih ada yang lebih alim, diatas langit masih ada langit, demikian pula di bawah  orang bodoh masih banyak juga yang lebih bodoh. Jadi jangan heran, jika ada orang bodoh yang banyak pengikutnya atau folowers-nya juga banyak.

Demikianlah semoga bermanfaat..

#juspare

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *